Text only  Print this page | E-mail this page| Add to favourites
Skills for Social Entrepreneurs
Community Entrepreneurs Challenge
Community Journalism Challenge
Downloadable Materials
Frequently Asked Questions
Please note that this FAQ is in Bahasa Indonesia
Apa yang dimaksud dengan Kewirausahaan Sosial?

Kewirausahaan Sosial biasa dikenal dengan istilah Social Entrepreneurship. Kewirausahaan Sosial merujuk pada suatu usaha yang memiliki tujuan sosial sebagai nilai mereka yang paling utama.

Kewirausahaan yang dimaksud merujuk kepada wirausaha dan usaha yang dimiliki, dengan aktifitas untuk menghasilkan pendapatan melalui produksi atau pemberian nilai tambah suatu produk atau jasa.

Pada Kewirausahaan Sosial pendapatan dihasilkan dan diinvestasikan kembali untuk menjaga keberlanjutan dari aktivitas sosial atau lingkungan yang menjadi dasar pembentukan usaha.

Apa yang dimaksud dengan kewirausahaan sosial berbasis komunitas?

Kewirausahaan Sosial berbasis Komunitas (Community Entrepreneurship) merupakan sebuah usaha dengan tujuan sosial yang dilakukan oleh suatu komunitas (kesamaan daerah/latar belakang).

Sama seperti unit usaha lainnya, kewirausahaan sosial berbasis komunitas ini melakukan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi, namun ditambah dengan beberapa penekanan pada nilai-nilai lainnya, yaitu: demokratis (dimana setiap anggota komunitas memiliki hak dan suara dalam menentukan keputusan), terbuka (keterbukaan dan transparansi informasi), serta bertanggungjawab akan setiap aktivitasnya.

Selain itu, setiap keuntungan yang didapat dari hasil usaha kewirausahaan sosial ini akan diinvestasikan kembali (diputar) untuk keberlanjutan aktivitas sosial mereka.

Sedangkan pelakunya, disebut sebagai Wirausahawan Sosial berbasis Komunitas (Community Entrepreneur). Ia adalah anggota dari suatu komunitas yang memiliki komitmen untuk memecahkan masalah komunitas dan/atau memperkuat ekonomi komunitas melalui (pendekatan) usaha sosial. Biasanya, ia adalah seorang pemimpin atau pendiri atau pengelola kegiatan usaha di komunitas.

Apa contoh-contoh usaha sosial berbasis komunitas?

Institut Pluralisme Indonesia (IPI)

Sebagai seorang peneliti ekonomi, William Kwan memiliki minat mengenai pluralisme. Memahami bahwa perbedaan adalah sebuah kekuatan dan potensi, membuatnya memilih Batik Lasem sebagai media untuk menggali hal ini.

Dalam penelitiannya, ia tidak hanya mengkaji mengenai cara hidup, kebudayaan, serta kebangkitan dan kejatuhan Batik Lasem yang pernah mengalami masa jayanya; ia juga mengembangkan arah penelitiannya ke arah peningkatan kesejahteraan para pengrajinnya.

Untuk inilah, ia mendirikan IPI untuk memfasilitasi impiannya. Kedepannya, IPI berencana membangun sebuah Pusat Marketing Komunitas Batik, yang memfasilitasi kebutuhan antara pengrajin dengan pedagang batik serta pemberian bekal untuk meningkatkan ekonomi.

Oleh karena itu, IPI bekerjasama dengan Komunitas Seniman Srikandi Jeruk Batik akan mengembangkan keterampilan para pengrajin batik dalam hal manajemen dan kewirausahaan dan dan menciptakan model bisnis untuk promosi budaya dan pelestarian budaya Batik Lasem.

Tidak berhenti sampai di situ, IPI pun melakukan pengumpulan data mengenai keragaman motif Batik Lasem dengan berbagai detilnya untuk melengkapi penelitiannya akan pluralisme.

Kelompok Konservasi Bakau Muara Baimbai

Abrasi di Dusun 3, Sei Nagalawan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara telah merusak ekosistem di pantai di sekitar Sungai Nipah. Kerusakan ini mengubah garis pantai dan mengurangi hasil tangkapan ikan para nelayan. Hal ini mencapai puncaknya pada tahun 1994, dipicu oleh ekspansi tambak udang dan ikan yang telah dimulai sejak tahun 1982.

Saat itu hutan bakau ditebangi untuk membuat tambak hingga ke bibir pantai. Kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan masyarakat nelayan di sana. Walaupun dicemooh, sekelompok nelayan terdorong untuk menanam bakau untuk melindungi pantai dari abrasi.

Setelah melakukan upaya ini selama beberapa tahun, kini perairan sekitar pantai telah ditumbuhi bakau lebat seluas 5 hektar. Warga yang tadinya mencemooh, sekarang menyadari manfaat dari bakau yang ditanam di pantai. Tangkapan ikan lebih banyak dan lebih baik mutunya.

Demikian pula kepiting dan burung bangau kembali sering terlihat di sekitar pantai. Perkembangan yang positif ini mendorong munculnya gagasan untuk menjadikan wilayah pantai sebagai kawasan wisata dengan perspektif lingkungan dan pendidikan.

Selain selaras dengan misi konservasi lingkungan, usaha wisata akan meningkatkan penghasilan masyarakat nelayan yang selama ini telah menyatukan diri dalam koperasi.  

Bina Lingkungan

Komunitas Kelurahan Bener, Yogyakarta, telah lama terlibat dalam berbagai aktivitas melindungi linkungan sejak tahun 2007 dipimpin oleh Atik Soekarno dan Novi Ariani.

Aktiitas mereka termasuk mengelola bank sampah, produksi kompos organik, menghasilkan kerajinan dari sampah dan mengelola taman pertanian sayur organik pada lahan sempit.

Albertus Aryanto Nugroho adalah konsultan dari Sinergi yang mengusulkan menggabungkan aktivitas komunitas Kelurahan Bener dengan komunitas di Prawirodirjan dan Pringgokusuman, yang tengah mengelola inisiatif sejenis sejak 12 bulan yang lalu.

Albertus percaya bahwa kedua komunitas ini dapat mengadopsi model yang sukses diterapkan oleh komunitas Bener dan merasakan manfaat ekonomi pada prosesnya. Albert, Atik dan Novi berharap suatu hari pendekatan mereka dapat diimplementasikan oleh komunitas di seluruh Yogyakarta, menjadikannya kota yang lebih baik dan nyaman ditempati.

Koperasi Fatimah Azzahra

Rendahnya tingkat pendapatan nelayan di Patingaloang Paotere, Sulawesi Selatan, membuat Nureini (42 tahun) tergerak untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat menambah penghasilan masyarakat nelayan Patingaloang. Saat ditinggal melaut, kebanyakan para istri nelayan menganggur.

Nureini mengajak mereka mengolah ikan menjadi produk makanan olahan. Ikan yang biasanya hanya sebagai lauk, diolah menjadi abon yang memiliki nilai ekonomis tinggi disamping pemrosesan bandeng tanpa duri.

Nureini bersama ibu-ibu lainnya juga mendirikan koperasi Fatimah Az-Zahra yang beranggotakan sekitar 200 istri nelayan. Nama Fatimah Az-Zahra juga digunakan sebagai merk dagang abon ikan olahan mereka. Patingaloang kini dikenal sebagai penghasil abon ikan bermutu. Produk abon ikannya menjadi salah satu pilihan buah tangan dari Makassar.

Sebagian dari keuntungan koperasi kemudian dibagikan melalui kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi manula serta penyediaan makanan tambahan untuk asupan gizi bagi manula dan balita setiap bulannya.

Beberapa contoh usaha sosial berbasis komunitas lainnya:

Apakah usaha saya termasuk usaha sosial berbasis komunitas?

Sulit untuk mengklasifikasi apakah suatu usaha merupakan Usaha Sosial berbasis Komunitas tanpa mengetahui rincian terkait dengan usaha tersebut. Namun, beberapa tujuan dan batasan yang khas pada Usaha Sosial berbasis Komunitas:

  • Harus punya tujuan sosial dan/ atau lingkungan hidup.
  • Harus melibatkan anggota komunitas yang lebih luas dan pemangku kepentingan dalam dialog untuk pengambilan keputusan penting.
  • Harus menginvestasikan keuntungan kembali kepada kegiatan komunitas.
  • Harus melibatkan komunitas dalam kegiatan ekonomi inti dari suatu usaha.
Apa itu Community Entrepreneur Challenge?

Ini adalah kompetisi tahunan yang diadakan oleh British Council Indonesia dengan dukungan oleh Arthur Guinness Fund (AGF) untuk wirausaha sosial berbasis komunitas pemula dan madya.

Tujuan dari kompetisi ini adalah mengidentifikasi dan mendukung mereka yang memiliki ide kewirausahaan sosial cemerlang untuk membangun komunitas mereka dan komunitas atau lembaga sosial yang memiliki ide cemerlang atau sudah menjalankan kewirausahaan untuk tujuan sosial.

Tujuan utama proyek ini adalah mengembangkan suatu sistem pendukung yang berkelanjutan untuk satu kumpulan usaha sosial berbasis komunitas yang sedang berkembang untuk memberikan pemecahan masalah dan lingkungan yang akan membawa manfaat nyata kepada komunitas.

Tujuan kompetisi adalah:

  • Mengembangkan jaringan wirausaha sosial berbasis komunitas pemula dan semi mapan.
  • Mengadakan pengembangan kapasitas untuk wirausahawan sosial berbasis komunitas pemula dan semi mapan.
  • Memberikan manfaat sosial yg nyata kepada masyarakat melalui usaha sosial berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Bagaimana caranya mendaftar?
Informasi pelaksanaan CEC dan pendaftaran akan kami umumkan di website dan sosial media.
Apakah hubungan CEC dengan Community Journalism Competition?

Setelah menyelenggarakan Community Enterprise Challenge selama dua tahun (2010-2011), British Council dan Arthur Guinness Fund menyadari bahwa pemberdayaan wirausahawan sosial saja tidaklah cukup. Kita juga perlu memberdayakan konsumen agar memiliki kesadaran sosial dan lingkungan saat membelanjakan uang mereka.

Oleh sebab itu, melalui Community Journalism Competition kami mencari kaum muda inspiratif yang tertarik untuk belajar kemudian mengembangkan film dokumenter singkat terkait kegiatan usaha sosial dari komunitas-komunitas yang diidentifikasi melalui Community Enterprise Competition.

Sebaliknya komunitas yang diseleksi akan mendapatkan kesempatan didokumentasi dan dipublikasikan kegiatan usahanya, sehingga semakin banyak yang mengetahui produk dan jasa yang mereka tawarkan serta manfaat sosial yang mereka hasilkan.

Dengan demikian, kami berharap dapat mengedukasi masyarakat, khususnya kaum muda sebagai konsumen, dengan memberikan akses informasi mengenai kewirausahaan sosial berbasis komunitas.

Untuk Community Journalism Competition, apakah tim yang mendaftar harus memiliki perlengkapan pembuatan film sendiri?
Untuk materi video aplikasi yang diunggah ke youtube, pendaftar harus menggunakan perlengkapan sendiri. Untuk materi film dokumenter singkat yang akan dihasilkan oleh peserta yang telah terpilih, British Council akan menyediakan peralatan film yang memadai.
Apakah yang akan dinilai dari film yang dibuat?

Sesuai dengan Kriteria Penjurian adalah sebagai berikut:

  1. Kreatifitas penyampaian gagasan melalui medium audio visual
  2. Kejelasan pemahaman akan Kewirausahaan Sosial
  3. Antusiasme penyebaran gagasan Kewirausahaan Sosial
Bagaimana jika salah seorang anggota tim tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan (hanya bisa mengikuti sebagian rangkaian kegiatan)?
Jika salah satu anggota tim tidak dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan kompetisi, peserta akan diminta menjelaskan alasan/ permasalahan kepada British Council dan tim fasilitator kompetisi. Berdasarkan diskusi dengan peserta, British Council dan tim fasilitator akan memutuskan keberlanjutan dari partisipasi tim. Isu yang mungkin muncul terkait partisipasi sebaiknya disampaikan oleh tim dari awal.
Apa yang dimaksud dengan film maker non-profesional?
  • Mereka yang tidak sedang atau pernah bekerja di stasiun televisi nasional maupun internasional dn tidak sedang atau pernah bekerja di rumah produksi (PH) yang memasok program ke stasiun televisi lokal, nasional maupun internasional.
  • Mereka yang tidak sedang atau pernah terlibat dalam pembuatan film yang sengaja dibuat untuk diedarkan di bioskop-bioskop dalam dan luar negeri.
Apakah ada persyaratan tentang peralatan yang digunakan dalam pembuatan video pendek untuk pendaftaran ?
Tidak ada persyaratan alat khusus. Peserta bisa merekam video melalui telepon seluler, home-video camera, pocket digital camera yang memiliki fitur video, cam-corder portable dan camera video profesional (digital maupun High-Definition).

The United Kingdom’s international organisation for cultural relations and educational opportunities.
A registered charity: 209131 (England and Wales) SC037733 (Scotland)
Our privacy and copyright statements.
Our commitment to freedom of information. Double-click for pop-up dictionary.

 Positive About Disabled People