Institut Pluralisme Indonesia (IPI)
Sebagai seorang peneliti ekonomi, William Kwan memiliki minat mengenai pluralisme. Memahami bahwa perbedaan adalah sebuah kekuatan dan potensi, membuatnya memilih Batik Lasem sebagai media untuk menggali hal ini.
Dalam penelitiannya, ia tidak hanya mengkaji mengenai cara hidup, kebudayaan, serta kebangkitan dan kejatuhan Batik Lasem yang pernah mengalami masa jayanya; ia juga mengembangkan arah penelitiannya ke arah peningkatan kesejahteraan para pengrajinnya.
Untuk inilah, ia mendirikan IPI untuk memfasilitasi impiannya. Kedepannya, IPI berencana membangun sebuah Pusat Marketing Komunitas Batik, yang memfasilitasi kebutuhan antara pengrajin dengan pedagang batik serta pemberian bekal untuk meningkatkan ekonomi.
Oleh karena itu, IPI bekerjasama dengan Komunitas Seniman Srikandi Jeruk Batik akan mengembangkan keterampilan para pengrajin batik dalam hal manajemen dan kewirausahaan dan dan menciptakan model bisnis untuk promosi budaya dan pelestarian budaya Batik Lasem.
Tidak berhenti sampai di situ, IPI pun melakukan pengumpulan data mengenai keragaman motif Batik Lasem dengan berbagai detilnya untuk melengkapi penelitiannya akan pluralisme.
Kelompok Konservasi Bakau Muara Baimbai
Abrasi di Dusun 3, Sei Nagalawan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara telah merusak ekosistem di pantai di sekitar Sungai Nipah. Kerusakan ini mengubah garis pantai dan mengurangi hasil tangkapan ikan para nelayan. Hal ini mencapai puncaknya pada tahun 1994, dipicu oleh ekspansi tambak udang dan ikan yang telah dimulai sejak tahun 1982.
Saat itu hutan bakau ditebangi untuk membuat tambak hingga ke bibir pantai. Kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan masyarakat nelayan di sana. Walaupun dicemooh, sekelompok nelayan terdorong untuk menanam bakau untuk melindungi pantai dari abrasi.
Setelah melakukan upaya ini selama beberapa tahun, kini perairan sekitar pantai telah ditumbuhi bakau lebat seluas 5 hektar. Warga yang tadinya mencemooh, sekarang menyadari manfaat dari bakau yang ditanam di pantai. Tangkapan ikan lebih banyak dan lebih baik mutunya.
Demikian pula kepiting dan burung bangau kembali sering terlihat di sekitar pantai. Perkembangan yang positif ini mendorong munculnya gagasan untuk menjadikan wilayah pantai sebagai kawasan wisata dengan perspektif lingkungan dan pendidikan.
Selain selaras dengan misi konservasi lingkungan, usaha wisata akan meningkatkan penghasilan masyarakat nelayan yang selama ini telah menyatukan diri dalam koperasi.
Bina Lingkungan
Komunitas Kelurahan Bener, Yogyakarta, telah lama terlibat dalam berbagai aktivitas melindungi linkungan sejak tahun 2007 dipimpin oleh Atik Soekarno dan Novi Ariani.
Aktiitas mereka termasuk mengelola bank sampah, produksi kompos organik, menghasilkan kerajinan dari sampah dan mengelola taman pertanian sayur organik pada lahan sempit.
Albertus Aryanto Nugroho adalah konsultan dari Sinergi yang mengusulkan menggabungkan aktivitas komunitas Kelurahan Bener dengan komunitas di Prawirodirjan dan Pringgokusuman, yang tengah mengelola inisiatif sejenis sejak 12 bulan yang lalu.
Albertus percaya bahwa kedua komunitas ini dapat mengadopsi model yang sukses diterapkan oleh komunitas Bener dan merasakan manfaat ekonomi pada prosesnya. Albert, Atik dan Novi berharap suatu hari pendekatan mereka dapat diimplementasikan oleh komunitas di seluruh Yogyakarta, menjadikannya kota yang lebih baik dan nyaman ditempati.
Koperasi Fatimah Azzahra
Rendahnya tingkat pendapatan nelayan di Patingaloang Paotere, Sulawesi Selatan, membuat Nureini (42 tahun) tergerak untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat menambah penghasilan masyarakat nelayan Patingaloang. Saat ditinggal melaut, kebanyakan para istri nelayan menganggur.
Nureini mengajak mereka mengolah ikan menjadi produk makanan olahan. Ikan yang biasanya hanya sebagai lauk, diolah menjadi abon yang memiliki nilai ekonomis tinggi disamping pemrosesan bandeng tanpa duri.
Nureini bersama ibu-ibu lainnya juga mendirikan koperasi Fatimah Az-Zahra yang beranggotakan sekitar 200 istri nelayan. Nama Fatimah Az-Zahra juga digunakan sebagai merk dagang abon ikan olahan mereka. Patingaloang kini dikenal sebagai penghasil abon ikan bermutu. Produk abon ikannya menjadi salah satu pilihan buah tangan dari Makassar.
Sebagian dari keuntungan koperasi kemudian dibagikan melalui kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi manula serta penyediaan makanan tambahan untuk asupan gizi bagi manula dan balita setiap bulannya.
Beberapa contoh usaha sosial berbasis komunitas lainnya:
|