TrendUk

Wahyu Aditya
Dengan hadiah Rp.138 juta dari IYCE, Adit memboyong tim manajemen Hello;Motion ke Inggris untuk mempelajari industri film di London dan Bristol. Ia merencanakan kerjasama festival animasi dengan Watershed, pusat film terkemuka di Bristol.

Wahyu Aditya baru berusia 27 tahun saat ia dinobatkan sebagai juara dunia Screen Entrepreneur 2007 di London –menjadikannya pemenang termuda dalam sejarah kompetisi British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Awards.

Seorang pemimpi, Adit menjual komik pertamanya kepada rekan-rekan sekolah di Malang. Semangat wiraswasta itu yang membawanya belajar Multimedia Interaktif di KvB Institute of Technology, Sydney, Australia. Di sana, ia menggondol gelar ”Siswa Terbaik”.

Adit pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai desainer pada Trans TV sambil menyambi sebagai animator dan sutradara klip video. Ia memenangkan kompetisi film Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2004, proyek pengembangan skrip film dari Jiffest & Hubert Bals Foundation 2005, serta beasiswa produksi film dan animasi dari Jepang 2006.

Secara mencengangkan, Adit meninggalkan pekerjaan tetapnya di usia 24. Ia mendirikan sekolah, Hello;Motion, dengan pinjaman bank sebesar Rp. 400 juta. Hutang itu dilunasinya cuma dalam tempo 3 tahun.

Adit juga mendirikan festival film pendek dan animasi Hello;Fest yang mengangkat 400 film baru dan menarik 10 ribu penonton setiap tahunnya. Sukses Hello;Fest menciptakan lapangan kerja baru dan turut membangun industri film dan konten Indonesia.

Mita Sirait
Setelah menjalani karir sebagai wirausahawan di Jogjakarta, dan setelah pengalaman kerja pertamanya di dunia nir-laba di Bandung, Mita bergabung dengan Water Sanitation Action (kemudian disebut Yayasan Immanuel) di Jakarta tahun 2006.

Mita membantu masyarakat melihat sampah dengan cara yang benar-benar berbeda. “Tiap hari mereka melihat sampah. Anak-anak lahir dekat sampah dan tumbuh besar dikelilingi sampah. Mereka tak merasa ada yang aneh dengan hal itu,” kata Mita. Ia mengubah keadaan sekitar dengan membantu komunitas lebih memahami dampak sampah bagi kesehatan dan mengajarkan mereka untuk melihat sampah sebagai sumber ekonomi.

Awalnya, tidak mudah. Penduduk miskin yang ia layani memiliki kesadaran yang minim terhadap kebersihan makanan dan air, dan sering tak memedulikan lingkungan. Para pemimpin setempat tak menyadari manfaat dari bantuan yang ditawarkan Mita.

Dengan mengajarkan masyarakat cara mengumpulkan, membersihkan, dan mendaur ulang sampah menjadi barang yang bisa dijual seperti tas, Mita telah menciptakan sumber pendapatan baru. Banyak peserta proyek bermimpi bisa membuat produk asli dari bahan daur ulang.

Ibu Sum yang terlibat dalam proyek ini mengatakan, “Saya sangat terbantu karena sekarang bisa membeli baju sekolah untuk anak saya dan menabung untuk sekolah mereka.”

Para keluarga yang tadinya hanya mendapat 250,000 rupiah sebulan bisa memperoleh penghasilan dua kali lipat setelah mengikuti proyek daur ulang ini sekaligus bisa mengolah sampah dan mengelola pemakaian air secara lebih baik.

Namun jangan juluki dia ”Sinterklaas”. Tugas Mita adalah memberdayakan lingkungannya –bukan sekadar membagi-bagikan uang—agar mereka mendapatkan keahlian baru mengubah sampah menjadi sumber penghasilan

Silverius Oscar
Tahun 2003, Silverius Oscar “Onte” Unggul (37) mendirikan Jaringan Untuk Hutan (JAUH). Ia prihatin terhadap tingkat pembalakan hutan sekaligus kemiskinan di antara 30 juta penduduk Indonesia di sekitar hutan tropis.

JAUH menyediakan keahlian perencanaan produksi bagi perusahaan kayu, mempertemukan usaha tradisional dengan pasar luar negeri, dan membantu sertifikasi label ramah lingkungan bagi ekspor kayu.

Ia juga membentuk koperasi di 12 desa Sulawesi Selatan yang mengelola dan memasarkan penebangan kayu berbasis komunitas. Mereka melakukan patroli bersama mencegah pembalakan liar dan menanam 10 bibit untuk setiap kayu yang ditebang.

Setahun kemudian, setiap anggota mendapat Rp. 1,6 juta per meter kubik kayu terjual dalam tiga bulan terakhir –4 kali lipat penghasilan mereka sebelumnya. Di akhir tahun, koperasi juga berhasil membagikan keuntungan kepada setiap anggota dan meningkatkan pendapatan daerah.

Anggota Pramuka dan mantan atlet ini mulai terlibat dalam isu lingkungan sejak di bangku kuliah. Ia mulai bekerjasama dengan penduduk setempat dan mendirikan Yascita dengan teman-temannya setelah lulus untuk mendorong bisnis berbasis sumber alam.

Laporannya tentang pembalakan hutan di Sulawesi Selatan tak digubris media setempat. Tahun 1999, ia mendirikan radio komunitas Suara Alam yang menyiarkan informasi tentang isu lingkungan dan pengelolaan sumber alam. Radio ini tetap popular di provinsi.

Dengan modal awal kecil, ia mendirikan TV Kendari tahun 2003 –satu-satunya stasiun lokal yang dimiliki dan dikelola masyarakat .

Onte seorang Fellow Ashoka, pemenang Ernst & Young Social Entrepreneur of the Year 2008, dan peraih Young Global Leader World Economic Forum 2009 –satu dari 5 pemuda Indonesia di antara 230 lainnya dari 71 negara.

Close this window