TrendUk

Irfan Amalee
KALAU ada seribu orang seperti Irfan Amalee (32), mungkin takkan lagi ada peperangan. Bagi pemenang nasional International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Communication Award 2009 ini, perdamaian adalah cara membangun peradaban yang lebih baik.

Irfan adalah sosok muda dengan banyak bakat: redaktur penerbit Mizan, penulis, wartawan, pembuat film, pelatih perdamaian, dan orang yang peduli pada pola pengasuhan anak dan remaja.

Pemuda kelahiran Jawa Barat itu percaya, aktivitas perdamaian bisa lebih dari ‘acara-amal’ semata –apalagi jika dikelola sebagai sebuah social enterprise yang professional.  

Dengan modal kecil, Irfan mengembangkan The Peace Generation Project tahun 2007. Ia memimpin sendiri kelompok kecil di Mizan Pelangi yang membuat modul pelatihan perdamaian. Program ini mencakup pelatihan untuk pelatih, guru, dan fasilitator komunitas dari dalam dan luar negeri.

Mereka kemudian membekali 500 orang yang sudah dilatih untuk mendistribusikan buku-buku tersebut dari rumah-ke-rumah serta dipromosikan ke sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga non pemerintah di daerah konflik seperti Aceh, Kalimantan dan Sulawesi.

Dalam tempo singkat, Irfan berhasil membangun jaringan 15.000 pelajar dan 100 agen perdamaian di seluruh Indonesia. Mereka membangun wirausaha komunitas seperti toko buku, pusat pelatihan dan klub buku yang tiap bulannya bisa beromzet puluhan juta rupiah.

Impiannya kini adalah melahirkan 100.000 anak muda di Indonesia yang menjadi komunitas penggerak perdamaian.  

Dimasa depan, Irfan Amalee merencanakan untuk mendirikan PeaceShops, PeaceCorners dan PeaceStores yang semuanya kelak akan dikelola oleh komunitas lokal yang sudah terbentuk.

Perdamaian –bila dikelola secara profesional-- tampaknya menjadi cara membangun peradaban yang lebih baik.

Karina Primadhita
Karina Primadhita (22), dan Nyonya Pin Sudiraharti (47), adalah social entrepreneur asal Bandung. Dengan inisiatif mereka sendiri, Ibu dan anak ini mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk tuna rungu.

Menyisihkan dari laba hasil salon kecantikannya, Nyonya Sudiraharti menerima murid pertamanya di tahun 1997 di salah satu ruang di rumah pribadinya, kemudian berkembang menjadi 23 murid dimana ia kemudian mendirikan ruang kelas yang layak tak jauh dari rumahnya di tahun 2000. Sekarang SLB Prima Bhakti Mulia ini mampu menampung 75 murid usia taman kanak-kanak sampai tingkat SMP dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 14 orang di sekitarnya sebagai guru. Dengan fokus untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau, SLB Prima Bhakti Mulia memberikan beasiswa kepada murid dari keluarga kurang mampu.

Karina adalah relawan Global Xchange, program British Council untuk relawan Indonesia dan Inggris usia 18 – 25 tahun. Nyonya Sudiraharti adalah seorang wirausahawan berbasis komunitas dan mitra British Council dalam program Global XChange 2008.

Mahrizal Paru
Saat kecil, orang tua Mahrizal (26) kerap membekali dirinya dengan biji cokelat. Ia kemudian menjualnya dengan harga beberapa ratus perak –cukup untuk jajan di sekolah. Kini ia direktur Yayasan Tunas Bangsa, sebuah lembaga nir-laba yang bermitra dengan 70 petani cokelat di Pidi.

Wilayah ini menjadi salah satu tempat yang paling berdarah sepanjang sejarah konflik di Aceh. Tanpa penghasilan, penduduk desa mulai menjarah 280 are hutan yang berbatasan dengan kampungnya. Curah hujan pun menurun dari tahun-ke-tahun.

Ketimbang membuka lahan baru, yayasannya memanfaatkan lahan bekas hutan yang rusak bekas pembalakan liar untuk menanam biji cokelat. Selain menyediakan biji dan pupuk secara cuma-cuma, Mahrizal juga melatih petani untuk meingkatkan panennya. Kini, setiap hektar dari 50 hektar kebun menghasilkan 1.2 tom biji, sama dengan penghasilan sebesar Rp. 2,4 milliar setahun. Petani menjual biji cokelat ke pembeli setempat, yang kemudian menjualnya kembali kepada perusahaan yang antara lain mengekspornya ke Malaysia dan Singapura.     

Impiannya adalah menjual cokelat, bukan sekedar bijinya. Cokelat yang ditanam secara organic, ramah lingkungan, dan dirawat oleh para petani yang sedang membangun kembali hidupnya setelah konflik berdarah. “Kami perlu lebih dari sekadar sumbangan dan hibah. Kami perlu mengembangkan ini secara bisnis dengan modal bank.”

Close this window