Text only  Print this page | E-mail this page| Add to favourites
Penutupan Simposium EBE
Perspektif Nyata untuk Langkah Berikutnya

Ada kemeriahan pada hari terakhir Simposium English Bilingual Education (EBE) yang berlangsung pekan lalu di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Tiga sisi dinding ruang seminar dipenuhi lembaran-lembaran kertas sebesar poster film. Lomba majalah dinding? Mirip, tapi tidak tepat demikian, karena tertempel di sana adalah poin-poin penting seputar pendidikan bilingual, pengajaran bidang studi lain dalam bahasa Inggris dan usulan perbaikan yang dirangkum para peserta.  

Selama seminar tiga hari, 9-11 Juni 2009, para peserta yang datang dari Indonesia, Inggris, Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Sri Langka, dan Vietnam berbagi pengalaman mereka di negara masing-masing. Ada persoalan umum yang terjadi di semua negara, yang paling mengemuka adalah kemampuan para guru untuk mengajar bidang studi lain dalam bahasa Inggris, serta ada hal lain yang spesifik. Oleh karenanya, solusi yang muncul dari seminar ini pun bervariasi berdasarkan relevan tidaknya sebuah isu untuk setiap negara..

Wakil Indonesia yang hadir dalam seminar, misalnya, mengusulkan simposium lanjutan khusus untuk membahas isu pendidikan bilingual di Indonesia. Simposium ini akan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemerintah, guru, orang tua, dan pengamat luar yang bakal bisa memberikan masukan independen dan objektif. Selanjutnya, akan ada dilakukan penelitian kualitatif yang juga melibatkan murid. Dari sana, diharapkan muncul peta yang lebih komprehensif mengenai pendidikan bilingual di Indonesia sehingga tuntutannya pun lebih realistis. “Prinsipnya, langkah ini bukan untuk mementahkan R-SBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), melainkan mematangkannya,” kata Dr. Faturrahman dari Direktorat SMP, Departemen Pendidikan Nasional. Usulan wakil Indonesia, dan juga wakil-wakil dari negara lain, memang belum merupakan jawaban final namun merupakan langkah-langkah potensial dalam mengembangkannya.

Namun, “Sekarang kami memiliki perspektif nyata untuk langkah-langkah berikutnya,” kata Christian Duncumb, Director English and Education Reform, British Council Indonesia. Perspektif ini menjadi sangat penting mengingat pendidikan bilingual adalah persoalan pelik yang tidak bisa asal disebut sesuatu yang baik atau buruk. “Ada contoh keberhasilan maupun kegagalan. Oleh karenanya, 'British Council tidak dalam posisi untuk mengatahan hal tersebut baik atau buruk,” ujar Duncumb. Ia menekankan hal tersebut karena misi utama British Council adalah peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris melalui mekanisme apapun yang paling sesuai di dalam konteks pendidikan.

Salah seorang pembicara dalam seminar, Professor Emeritus Richard Johnstone, mantan Director of Scottish CILT (Centre for Information on Language Teaching & Research), University of Stirling, menyatakan bahwa dalam tataran ideal pendidikan bilingual lebih membuahkan hasil untuk anak didik. Ideal yang dimaksud adalah kualitas guru yang fasih mengajar dalam dua bahasa dan menguasai betul materi ajar. Johnstone mencontohkan anak-anak di Skotlandia yang bahasa pertamanya adalah Inggris mengikuti pendidikan bilingual dengan Gaelik sebagai bahasa kedua. Awalnya, anak-anak peserta pendidikan bilingual ini tertinggal dari kawan-kawannya yang hanya mengikuti pelajaran dalam bahasa Inggris. Seiring waktu, murid bilingual lebih cakap dalam matematika, sains, dan bahasa Inggris. “Begitu kognitif anak berkembang, ia juga berpikir lebih efisien,” kata Johnstone. Selain faktor kecakapan guru, Johnstone juga menyebut pentingnya peran aktif orang tua. Oleh sebab itu, perkumpulan orang tua perlu dibentuk mengingat kecakapan mereka yang berbeda-beda. Dengan perkumpulan ini, sesama orang tua bisa saling bantu.

Johnstone menilai bahwa formula untuk pendidikan bilingual tidaklah sepelik yang dibayangkan orang. Hanya saja, formula ini harus diterapkan secara hati-hati dan adaptif dengan kondisi setempat. Persoalannya, lanjut Johnstone, orang ingin melihat hasil instan. Padahal, pendidikan bilingual butuh waktu, dan di beberapa negara membutuhkan lebih dari sepuluh tahun. “Kuncinya adalah kesabaran dan pemahaman,” ujar Johnstone.

Baca juga artikel kami sebelumnya

The United Kingdom’s international organisation for cultural relations and educational opportunities.
A registered charity: 209131 (England and Wales) SC037733 (Scotland)
Our privacy and copyright statements.
Our commitment to freedom of information. Double-click for pop-up dictionary.
 Positive About Disabled People Download Browsealoud