Konferensi Internasional Kesembilan
Bahasa, Pembangunan dan Identitas
ITB Bandung Indonesia
26 – 28 Juni 2012
Undangan Untuk Mengajukan Makalah
Konferensi Internasional Kesembilan – yang diselenggarakan atas kerjasama antara Institut Teknologi Bandung (ITB), British Council di Indonesia dan University of Leeds (UK) – berfokus kepada bahasa di dalam pembangunan, termasuk bahasa daerah (misalnya bahasa Sunda), bahasa nasional (misalnya Bahasa Indonesia) dan bahasa internasional (misalnya bahasa Inggris). Konferensi ini juga akan menelaah dampak bahasa yang digunakan sebagai identitas nasional dan individu.
Bahasa Inggris sering dinyatakan sebagai syarat mutlak untuk pembangunan nasional. Akan tetapi, bahasa Inggris tidak digunakan secara luas di beberapa negara yang paling maju secara ekonomi di Asia (seperti Jepang). Sementara itu, beberapa negara yang berbahasa Inggris (seperti Jamaika) dan negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah (seperti Malawi) belum berkembang secara ekonomi. Jadi apa sebenarnya hubungan antara pembangunan ekonomi dengan bahasa (internasional, nasional, dan daerah)?
Aspek-aspek selain pembangunan ekonomi juga harus dipertimbangkan. Delapan Sasaran Pembangunan Milenium (SPM) memberikan alternatif pilihan yang bermanfaat; yaitu 1) memberantas kemiskinan dan kelaparan, 2) mencapai pendidikan dasar secara universal, 3) mendukung adanya persamaan jender, 4) mengurangi tingkat kematian anak, 5) meningkatkan kesehatan ibu, 6) pemberantasan HIV/AIDS dan malaria, 7) menjamin daya dukung lingkungan hidup, dan 8) mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam Human Development Report yang diterbitkan PBB tahun 2010, Indonesia menempati peringkat ke-108 dari 169 negara. Jadi, peran apakah yang harus dimainkan oleh bahasa daerah, nasional dan internasional dalam pencapaian SPM? Apa yang sedang dilakukan oleh Indonesia untuk meningkatkan peringkat pembangunan manusianya di kancah internasional? Bagaimana bahasa bisa mendukung atau menghambat target pencapaian SPM 2015?
Lebih jauh lagi, bagaimana pilihan bahasa bisa mempengaruhi identitas nasional dan identitas individu anggota masyarakat? Apakah jika kita berbondong-bondong mempelajari bahasa Inggris maka akan mengancam identitas nasional, atau apakah ini merupakan harga sepadan yang harus dibayar demi pembangunan? Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah: apakah bahasa-bahasa ini akan tergilas seiring perkembangan pembangunan nasional? Atau apakah bahasa-bahasa tersebut masih mempunyai peran? Dan bagaimanakah para penutur bahasa memandang diri mereka sendiri? Apakah mereka merasa tersingkirkan atau lebih berdaya dalam konteks melangkah maju ke arah pembangunan nasional? Apakah masyarakat merasa ada desakan untuk menelantarkan bahasa ibu? Dan apakah masyarakat merasa harus mendidik anak-anak mereka dengan menggunakan bahasa-bahasa baru sebagai bahasa pengantar?
Konferensi ini akan membahas isu-isu di atas dan juga isu terkait lainnya. Konferensi akan diselenggarakan dalam dua bahasa: Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Selama konferensi kami akan menyediakan penerjemah.
Kami mengundang proposal (dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris) untuk makalah dan lokakarya dalam bidang-bidang berikut ini:
- Peran bahasa dalam pengendalian dan pencegahan penyakit
- Bahasa di dalam pendidikan
- Bahasa untuk ketenagakerjaan, termasuk keterampilan bahasa yang dibutuhkan oleh para pekerja migran (TKI)
- Aspek-aspek bahasa dalam peningkatan kesadaran terhadap isu-isu lingkungan, baik di pedesaan maupun perkotaan.
- Bahasa di daerah konflik
- Bahasa dan identitas dalam pembangunan.
Konferensi ini diselenggarakan berdasarkan keberhasilan pelaksanaan delapan konferensi sebelumnya:
- 1995 Pengajaran Bahasa Inggris Kepada Mahasiswa S1 di Indonesia: Isu dan Perkembangannya
- 1997 Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Atas dan Universitas di Indonesia: Menjembatani Kesenjangan
- 2000 Ujian dan Evaluasi dalam Konteks Pengajaran Bahasa Inggris Tingkat Sarjana di Indonesia
- 2002 Otonomi: Sudut Pandang dari Ruang Kelas Bahasa Inggris, Tantangan bagi Penyedia Pendidikan Bahasa Inggris
- 2004 Mengajarkan Bahasa Inggris Kepada Anak-anak: Mengapa dan Bagaimana?
- 2006 Pengajaran Bahasa Inggris Berbasiskan Kompetensi: Teori dan Kenyataan
- 2008 Kompetensi dan Kualifikasi Guru untuk Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia
- 2010 Internasionalisasi dalam Pendidikan: Dampak bagi Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia.
Konferensi Internasional di Bandung memiliki reputasi dalam menelaah isu-isu yang menjadi sorotan bagi para pendidik bahasa di Indonesia, di samping juga menarik banyak jumlah peserta dari belahan dunia lainnya.
Kami menerima abstrak makalah (45 menit) atau lokakarya (90 menit) dari:
- pengajar bahasa di sekolah, program pemberantasan buta huruf dan perguruan tinggi
- dosen LPTK
- administrator dan manajer pendidikan
- pembuat kebijakan
- LSM dan badan pembangunan internasional
- peneliti
- dan siapa saja yang memiliki perhatian terhadap isu-isu kebahasaan, pembangunan dan identitas.
Peserta dari luar Indonesia akan diterima dengan tangan terbuka.
- 2 Maret 2012 Tenggat waktu penerimaan abstrak. Silakan gunakan Formulir Proposal. Abstrak harus dikirimkan kepada Panitia Penyelenggara Konferensi.
- 30 Maret 2012 Pengumuman proposal yang diterima
- 20 April 2012 Tenggat waktu bagi para pembicara untuk mengonfirmasi keikutsertaannya
- 31 Mei 2012 Tenggat waktu untuk pendaftaran pembicara. (Biaya pendaftaran dini sebesar Rp 650.000.)
- 26 – 28 Juni 2012 Konferensi (Biaya pendaftaran Rp750.000.)
Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi:
Panitia Penyelenggaraan Konferensi
UPT Pusat Bahasa
Gedung Lab. Tek. VIII Lantai 1
Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10
Bandung 40132, Indonesia, www.lc.itb.ac.id
Telepon/Faks +62 22 2505 674 / Di Indonesia 022 2505 674
Email dana@gerbang.lc.itb.ac.id
Untuk berpartisipasi, silakan menggunakan Proposal and Registration forms.
|