Finalis dalam urutan abjad:
Anggun Priambodo (Jakarta, 33 th) adalah pemilik perusahaannya sendiri di Jakarta yang memproduksi film pendek, video art, video musik, dan juga iklan komersial. Karya musik videonya membantu band-band indie ternama tampil dengan video yang layak, termasuk Pure Saturday, Efek Rumah Kaca, The Brandals, and White Shoes and The Couples Company. Saat ini Anggun terlibat dalam workshop film yang melibatkan 40 SMU di Ambon, Maluku. Rencananya hasil workshop ini akan ditonton ribuan orang di tempat terbuka.
Aoura Lovenson Chandra (Jakarta, 28 th), direktur Simple Media, perusahaan yang bergerak dalam bidang creative media di Jakarta. Aoura juga terlibat di Yayasan Goelali, yang setiap tahun menyelenggarakan Goelali Children Film Festival. Di tahun pertama festival ini menarik 5000 pengunjung, dan jumlahnya melonjak tiga kali lipat pada penyelenggaraan tahun kedua. Aoura adalah finalis IYCE Screen Award 2009.
Dhani Agustinus Syah (Palembang, 31 th), pemilik Dpro, perusahaan Jakarta yang mempromosikan film-film baru, baik independen maupun komersil seperti Lourdes, Oceans, dan Babies. Lingkup pekerjaan ini termasuk membuat flyer, banner, desain poster, foto dan video untuk keperluan dokumentasi. Lewat usahanya Dhani juga membantu menghubungkan para produser film untuk menemukan partner yang tepat untuk mendistribusikan film-filmnya lebih luas.
Dinna Jasanti (Jakarta, 26 th), pendiri dan direktur Yayasan Goelali yang berbasis di Jakarta. Festival ini telah berbagi keceriaan lewat dua kali Goelali Children’s Film Festival yang dikunjungi 20 ribu orang. Festival ini juga menjadi ajang bagi anak untuk mamerkan inovasi dan kreasi mereka untuk diapresiasi publik. Sebagai produser, Dinna mendapatkan Special Appreciation Award untuk film “Burung Burung Kertas” di Bali International Film Festival 2006
Endang Samadikun (Jakarta, 35 th), pendiri dan direktur POS(H)A perusahaan yang berangkat dari mimpinya untuk menulis cerita anak. Hanya saja sekarang mediumnya adalah gambar bergerak. Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini menyediakan jasa mulai dari konsep visual untuk desain bergerak sampai dengan produksi dan finishing animasi. Tahun ini, bekerja sama dengan Ruang Rupa untuk UNESCO, POS(H)A juga tengah merancang visual untuk kegiatan belajar mengajar agar lebih menarik dan mudah dipahami
Marlin Sugama (Bandung, 30 th), co-partner di Main Studios yang didirikan untuk mengembangkan IP (intellectual property) di lapangan hiburan digital, seperti animasi, videogames dan komik elektronik. Studio yang berlokasi di Jakarta Barat ini juga menjadi kisah sukses Blender, software animasi open source yang dipakai oleh industri animasi lokal sebagai alternatif software asing yang kelewat mahal.
Mohammad Sholikin (Bojonegoro, 27 th), pemilik studio Gathotkaca di Surabaya. Studio ini banyak mengambil ikon kesenian tradisional dalam produksi film animasinya. Solikhin juga bergerilya menjual merchandise dari animasinya untuk membiayai aktivitas, seperti ekshibisi dan workshop animasi. Hasilnya Gathotkaca sekarang punya ekshibisi-mininya sendiri yang diberi nama Surabaya Animation
Nauval Yazid (Malang, 31 th), manajer festival Jakarta International Film Festival (JIFFest). Jiffest adalah pionir festival film di Indonesia dan berhasil mendapatkan pengakuan publik sinema Indonesia, dibuktikan dengan tingkat keterisian pengunjung yang mencapai rata-rata 77% tiap tahunnya. Nauval Yazid juga adalah finalis IYCE Screen 2008.
Perdana Kartawiyudha (Mojokerto, 25 th), pendiri dan direktur Serunya Scriptwriting, pusat pengembangan dan pelatihan penulisan skenario pertama di Indonesia. Bengkel penulisan di Jakarta ini bersifat terbuka, hampir seluruhnya gratis dan diadakan setiap bulan, sejak 2007. Hasilnya beberapa alumninya sudah menjadi penulis skenario profesional untuk film, film serial, komedi situasi, dan dokumenter.
Yosep Anggi Noen (Sleman, 27 th), pendiri Limaenam Films di Sleman, Yogyakarta. Dengan kepercayaan tinggi pada sumber daya lokal, perusahaan ini telah memproduksi film-film pendek, dokumenter, dan produksi video komersial. Dan hasilnya beberapa produksi mereka sudah diikutkan dalam festival berkelas di Rotterdam, Singapore, Berlin, Manila, dan Mumbai. Co-founder Jogja NETPAC Asian Film Festival ini juga menerima penghargaan Piala Citra 2008 untuk Film Pendek Terbaik.
|