Setelah mempelopori Revolusi Industri di abad ke-19, Inggris di pertengahan abad ke-20 malah menjadi pionir gerakan pemulihan kota-kota yang terkena dampak hancurnya industri skala besar.
Sepanjang 1980-an dan 1990-an, Inggris kehilangan industri berat dan manufaktur akibat kompetisi global. Lebih dari setengah juta lapangan pekerjaan lenyap. Penduduk pun berduyun-duyun meninggalkan kotanya.
Yang tersisa adalah lahan-lahan yang tercemar dan bekas pabrik-pabrik yang tak lagi dipergunakan.
Dua puluh tahun kemudian, kota-kota tersebut kembali bertransformasi. Tumbuhnya industri kreatif bukan cuma memperbarui wajah kota, tapi juga membangkitkan kebanggaan masyarakatnya. Inilah yang terjadi di Bristol.
Faktor yang tak kalah penting adalah kerjasama antara pemerintah, perusahaan dan masyarakat setempat dalam merencanakan serta merealisasikan upaya regenerasi kota.
Dengan cara ini kota Newcastle berhasil menarik investasi swasta sebesar £ 160 juta dari dana awal pemerintah yang cuma £ 40 juta untuk proyek regenerasi Grainger Town!
Pendekatan yang sama sangat relevan bagi revitalisasi Kota Tua Jakarta.
Wilayah seluas 150 hektar ini telah berkali-kali berubah fungsi sepanjang 400 tahun sejarahnya –mulai dari benteng militer, pusat pemerintahan kolonial, hingga kawasan perdagangan. Sayangnya, degradasi Kotatua telah yang berlangsung 20 tahun terakhir mengakibatkannya kehilangan sekitar 600,000 orang penduduknya.
Bulan Maret ini ikuti berbagai kegiatan yang akan memicu upaya regenerasi kota dari berbagai ahli asal Inggris. Jangan lewatkan acara yang akan mentransformasi kawasan cagar budaya ini menjadi kanvas baru bagi kreatifitas masyarakatnya.
|