|
Wahyu Aditya mencetak sejarah dengan memenangkan International Young Screen Enterpreneur 2007 yang diadakan oleh British Council di London, 25 Oktober. Peserta lain dalam kompetisi ini berasal dari Brazil, China, India, Lebanon, Lithuania, Nigeria, Polandia dan Slovenia.
Di usianya yang baru menginjak 27 tahun, pemuda pemalu asal Malang, Jawa timur ini menjadi pemenang paling muda dalam sejarah kompetisi IYCEY.
Wahyu Aditya berhenti dari pekerjaannya di salah satu stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia tiga tahun yang lalu untuk menekuni kecintaannya: animasi dan bermimpi.
Dengan cepat memulai karirnya dengan memenangkan sejumlah penghargaan internasional untuk animasi uniknya. Ia juga menciptakan video musik berbentuk animasi pertama untuk lagu 'Bayangkanlah'. Lagu milik kelompok musik Padi ini merupakan sebuah visualisasi tentang protes terhadap perang yang sia-sia.
Kemudian ia mendirikan Hello;Motion, Sekolah Animasi dan Sinema yang sampai saat ini telah meluluskan lebih dari 500 pelajar.
Ia juga menggelar festival film pendek dan animasi Hello;Fest yang menayangkan lebih dari 400 karya lokal dan menarik minat lebih dari 10.000 penonton setiap tahunnya.
Pria yang akrab dipanggil Adit ini pun selalu melakukan kunjungan ke berbagai sekolah dan kampus di Indonesia, baik sebagai pemilik Hello:Motion maupun sebagai ketua Indonesian Animation and Content Association, untuk menebar antusiasmenya kepara generasi muda di seluruh negeri.
Kemampuannya untuk menggabungkan antara kreativitas, idealisme, pemahaman umum dan keahlian berbisnis membuat banyak orang, baik di dalam maupun di luar negeri terpesona. Sesuatu yang biasanya hanya sedikit dimiliki oleh para seniman dan pengusaha kreatif di Indonesia.
Pada acara di London’s Apollo Theatre pada tanggal 25 Oktober lalu, dewan juri yang terdiri dari Pauline Burt (dari Wales Film Agency), Satwant Gill (Head of Film British Council) dan Duncan Kenworthy (Produser film laris Inggris, Four Wedding and a Funeral, Nothing Hill dan Love Actually) mengatakan “Adit memiliki segalanya: antusiasme, bentuk bisnis yang komersial dan solid serta pendekatan yang sangat menyatu”.
”Dalam presentasinya yang lain dari yang lain, Adit memukau juri dengan pengetahuan bisnis yang dimilikinya, yaitu untuk menggunakan jalur pendidikan agar dapat menjaring dan menjaga talenta lokal serta tetap dapat menghasilkan uang. Sekolah dan festival animasi miliknya telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian lokal. Ia seorang pemimpin yang ambisius. Para juri yakin ia akan sukses membangun industri animasi yang sangat kuat di negaranya.”
Seperti orang Jawa pada umumnya yang selalu rendah hati, Adit tidak pernah menyangka ia akan menang. “Menurut saya finalis dari Cina atau Lebanon memiliki pencapaian-pencapaian yang sangat penting dalam industri film mereka,” ungkapnya.
Adit sangat menikmati perjalanan ke Inggris, dimana ia bisa mengunjungi London International Film Festival, melakukan perjalanan ke industri film Wales, serta bertemu dengan produser Gorillaz. “Perjalanan ini sangat membuka mata; sangat banyak yang dapat dipelajari dan diikuti jejaknya,” ucapnya antusias.
Sebagai pemenang, Adit berhak atas hadiah uang tunai sebesar £7500. “Saya masih belum memutuskan apakah saya akan menggunakan uang hadiah ini untuk belajar ke Inggris atau mengundang seorang ahli dari Inggris ke Indonesia,” ucapnya. “Keduanya sama-sama menantang.” Impian masa depannya antara lain adalah dapat menyelesaikan fitur animasi panjangnya dan membangun sebuah taman bermain bertema yang berasal dari karakter kartun ciptaannya.
Kesuksesan Adit merupakan lanjutan dari kesuksesan para pemenenag kreatif dari Indonesia lainnya. Yoris Sebastian memenangkan hadiah gabungan dari Music Enterpreneur di tahun 2006 sementara finalis lainnya dalam penghargaan musik dan desain (Leo Rustandi, Ridwan Kamil dan Gustaff Iskandar) juga membuat para juri di Inggris sangat terkesan.
Walaupun Indonesia baru berpartisipasi dalam penghargaan ini pada tahun 2006 namun ketika mengikutinya, partisipasi Indonesia tidak setengah-setengah. Di tahun 2007, Indonesia menjadi negara pertama yang ikut serta dalam empat penghargaan - musik, desain, film dan fesyen - secara bersamaan dalam satu kesatuan program.
Keberhasilan atas kemenangan mereka saat ini menyulut diskusi tentang industri kreatif yang tengah menjadi buah bibir di media dan blog web tentang Indonesia.
Di hari pengumuman di London, salah satu majalah terkemuka di Indonesia, Swasembada, mengangkat berita utama pertama mereka mengenai industri kreatif. Tidak mengherankan jika fitur sepanjang 48 halaman mereka adalah pengalaman para pemenang IYCEY di Inggris, industri kreatif dan program industri kreatif milik British Council.
Next up is Deli Rn Makmur, founder and managing director of FAME74, a communication agency that promotes fashion and lifestyle. He will travel this coming February to see first-hand the UK’s fashion industry, join a workshop by the eminent Paul Smith, and compete with other fantastic finalists from Bangladesh, Ghana, India, Iran, Kazakhstan, Lebanon, Mexico, Pakistan, and Srilanka.
Pemenang berikutnya dalam kompetisi ini adalah Deli Rn Makmur, pendiri dan sekaligus menjabat sebagai direktur utama dari FAME 74, sebuah agensi komunitas yang membahas tentang fesyen dan gaya hidup. Ia akan melakukan perjalanan pada Februari mendatang untuk melihat tangan pertama dari industri fashion di Inggris, ikut serta dalam workshop bersama Paul Smith yang ternama serta bersaing dengan para finalis lainnya yang tidak kalah hebatnya dari Bangladesh, Ghana, India, Iran, Kazakhstan, Lebanon, Mexico, Pakaistan dan Srilanka.
|